cerita siang ini
mentari memancarkan panasnya cahaya menusuk kulit. langkah demi langkah dijalani untuk menggapai impian. terik sang mentari tidak mematahkan semangat pemuda mencari hasil yang terbaik untuk hari ini. tak ada teman tak ada uang digenggaman tangannya. hanya bertemankan sebotol air mineral untuk melepas dahaga disiang ini. sepanjang perjalanan melihat apa yang seharunya tidak dilihat dan tidak memperkirakan seorang orang tua duduk tersipu dibawah pohon dengan sang putra yang mendampingi. merasa iba sang pemuda menghampiri orang tersebut. terlantun kata
pepohonan menumpang hidup
dedaunan yang rindang menjadi pilihan diantara gedung megah
impian sang pemuda mengapai harapan
terhambat dengan pemandangan orang yang dibawah pohon
melihat menuduklah kebawah
masih banyak dibawahmu pemuda
tetesan air mata mengalir diteriknya sang mentari
kehidupan disaat ini
harapan sang pemuda mencari apa yang diidamkan untuk keberhasilan diterik sang mentari kerena obsesi dan keinginan yang mendalam. usaha yang didapatkan melihatlah kebawah syukuri yang sudah ada.
Hati Ini Berkata "kerjakanlah sesuatu dengan pikiran yang tenang ketenangan membuat langkah kita menjadi ringan selesaikanlah semua yang menjadi kegiatan kita kerjakanlah dengan dahulu pasti akan berpikir"
Jumat, 09 Agustus 2013
Kamis, 08 Agustus 2013
Keindahan
keindahan dilihat dari segala sudut pandang dan kesesuaian yang melihat akan menghasilkan persepsi berbeda akan makna dari keindahan. keindahan hati seseorang dilihat dari tindakan yang akan mengacu pada kemana ia akan melakukan sesuatu dengan senyuman abstrak dan ikhlas. sehingga terpancar cahaya kemilau menyelimuti dirinya setiap langkah dimana saja. keindahan itu yang merasakan orang disampingnya meskipun yang bersangkutan tidak bisa merasakan keindahan akan dirinya. kehangatan, kenyamanan, kesenangan disisinya membuat orang selalu terpana dan kagum pada pancaran sinar keindahan yang dimiliki.
pancaran sinar membawa nyaman dihati
setiap langkah selimuti kalbu hangat
indahnya terpancar dari hati
senyum dengan segala keihlasan
kesenangan disamping dirinya
menambah pancaran sinar indah dirinya
sepenggal ucapan
ketenangan hati dan pikiran
keindahan memang terpancar dari diri seseorang dengan berbagai macam bentuk. bagaimana cara kita memahami akan keindahan seseorang dan menikmatinya. keindahan sesungguhnya dimiliki semua kalangan. bagaimana cara kita mengetahui keindahan seseorang atau keindahan pada diri kita sendiri. begitu pentingnya keindahan yang terpancar pada diri kita.
Sabtu, 08 Juni 2013
Filsafat Empiris
EMPIRISME
Filsafat diambil dari bahasa Arab Filsafah.
Dari bahasa Yunani Philosophia, kata majemuk yang terdiri dari kata Philos
artinya cinta atau suka, dan kata Shopia artinya bijaksana. Secara
etimologis memberikan pengertian cinta bijaksana. Selain etimologis dapat
diartikan secara terminologis, yang mempunya arti bermacam-macam. Menurut Plato
filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada, ilmu yang berminat untuk
mencapai kebenaran yang asli. (Juhaya, 2003: 1-2).
Filsafat ilmu adalah merupakan
bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan
mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan
implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu
sosial. Di sini, filsafat ilmu sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi. Filsafat ilmu berusaha untuk dapat
menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan
pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan,
bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui
teknologi, cara menentukan validitas dari sebuah informasi, formulasi dan
penggunaan metode ilmiah, macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk
mendapatkan kesimpulan, serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap
masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri
(http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_ilmu)
Mengalihkan
perhatian dari objek-objek yang sebenarnya dari penyelidikan ilmiah kepada
proses penyelidikannya sendiri, maka muncullah suatu mantra baru. Segi-segi
yang menonjol serta latar belakang segenap kegiatan menjadi nampak. Berangkat
dari sini maka, menjadi jelas pula saling adanya hubungan antara objek-objek
dengan metode-metode, antara masalah-masalah yang hendak dipecahkan dengan
tujuan penyelidikan imiah, antara pendekatan secara ilmiah dengan pengolahan
bahan-bahan secara ilmiah. Dengan demikian filsafat ilmu merupakan suatu bentuk
pemikiran secara mendalam yang bersifat kelanjutan. (Berling, dkk. 1988: 1).
Ada beberapa
teori kebenaran dalam Filsafat Ilmu, salah satunya Empirisme. Empirisme yang
akan dibahas penulis pada makalah ini. Ilmu tentang kebenaran dalam hal
pengalaman akan diurai dalam makalah ini. Empiris memberi tekanan pada empirik
atau pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Oleh karena itu empiris disebut
paham yang memiliki pengalaman sebagai sumber utama pengenalan, yang dimaksud
pengenalan batiniah dan lahiriah. Batiniah yang menyangkut pribadi manusia, dan
lahiriah yang menyangkut dunia. Untuk lebih lanjut mengetahui Filsafat Ilmu
tentang Empirisme, bisa dibaca dalam makalah yang penulis ini buat.
A.
Ilmu Empiris
Empirisme adalah Salah
satu konsep mendasar tentang filsafat ilmu, ketergantungan pada bukti.
Empirisme adalah cara pandang bahwa ilmu pengetahuan diturunkan dari pengalaman
yang kita alami selama hidup kita. Di sini, pernyataan ilmiah berarti harus
berdasarkan dari pengamatan atau pengalaman. Hipotesa ilmiah dikembangkan dan
diuji dengan metode empiris, melalui berbagai pengamatan dan eksperimentasi.
Setelah pengamatan dan eksperimentasi ini dapat selalu diulang dan mendapatkan
hasil yang konsisten, hasil ini dapat dianggap sebagai bukti yang dapat
digunakan untuk mengembangkan teori-teori yang bertujuan untuk menjelaskan
fenomena alam. (http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_ilmu).
Ilmu-ilmu
empirik memperoleh bahannya melalui pengalaman. Tetapi pengalaman atau empirik
ilmiah yang sesungguhnya lebih dari sekedar pengalaman sehari-hari serta hasil
tangkapan inderawi. Dalam siklus empirik dimulai lagi secara baru, tidak hanya
dalam eksperimen yang memerlukan observasi baru, melainkan juga adanya
deretan-deretan baru, bahan-bahan baru yang diobservasi sehingga mengahasilkan
deduksi dan induksi serta memperluasnya sistem pertanyaan-pertanyaan yang
teoritik. Siklus ini dijelaskan (A.D de Groot dalam Beerling) dalam
pembahasannya terdapat 5 siklus :
1.
Observasi
Dengan adanya
observasi yang dimaksudkan dalam ilmu empirik ini, diperoleh sejumlah
bahan-bahan empiric yang saling berhubungan, yang terdapat dalam
kumpulan-kumpulan bahan yang terkumpul. Yang tidak sekedar melakukan
pengamatan.
2.
Induksi
Setelah adanya
suatu observasi maka timbul pertanyaan-pertanyaan. Induksi suatu pertanyaan
umum yang didapatkannya, semacam tindakan penyempurnaan.
3.
Deduksi
Adpun
pertanyaan khusus, dimana deduksi. Dapat dijabarkan, yang kemudian dikaji.
4.
Kajian / Eksperimen
Pertnyaan
khusus dan umum yang sudah ada, kemudian dikaji dan di ekperimen kebenaran atau
tidak. Selanjutnya adanya verifikasi secara empirik. Dalam hubungan luas
dikatakan dalam hal seperti itu, dikukuhkannya suatu teori.
5.
Evaluasi
Semuanya sudah
terlaksana, baru diadakan suatu evaluasi terhadap teori yang sudah
didapatkannya.
Telah
disinggung diatas bahwa istilah Empirisme berasal dari bahasa Yunani Empiria
berarti pengalaman inderawati. Oleh karena itu, empirisme disebut paham
yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengalaman, berupa pengalaman
lahiriah dan batiniah. Empirisme sangat bertentangan dengan Rasionalisme.
(Juhaya, 2003:105).
B.
Tokoh – tokoh Empiris
a.
Thomas Hobbes (1588-1679)
Thomas Hobbes lulusan Universitas Oxford, kemudian menjadi pengajar pada suatu
keluarga yang terpandang. Dia mengenal filsafat Descartes dan pemikir-pemikir
Prancis lainnya, karena saat itu Inggris ada perang sahabat jadi Hobbes pergi
ke Prancis. Ia mensukai sain dan menciptakan filsafat atas dasar matematika.
Karya utamanya adalah Leviathan (1651), mengespresikan pandangannya tentang
hubungan antara alam, manusia, dan masyarakat. Filsafat Hobbes mewujudkan suatu
sistem yang lengkap mengenai keterangan yang ada secara mekanis. Dengan
demikian ia merupakan seorang meterialis di bidang ajaran tentang antropologi,
serta absolutis di bidang ajaran tentang negara.
Filsafat Materialisme, yang dianut Hobbes dapat dijelaskan “segala sesuatu yang
ada bersifat bendawi” bendawi yang dimaksud adalah suatu tidak bergantung pada
gagasan kita. Manusia, manusia tidak lebih dari suatu bagian alam bendawi yang
mengelilinginya, oleh karena itu segala sesuatu yang terjadi pada manusia dapat
diterangkan seperti cara yang terjadi pada kegiatan-kegiatan alamiah, yaitu
secara mekanis. Jiwa, dalam ajaran Hobbes jiwa sejalan dengan ajaran filsafat
dasar, sehingga jiwa baginya merupakan kompleks dari proses-proses mekanisme
dalam tubuh.
Teori pengenalan, pengalaman atau pengenalan sebagai Hobbes diperoleh dari
suatu pengalaman. Pengalaman dari awal segala pengetahuan, awal pengetahuan
tentang asas-asas yang diperoleh dan diteguhkan oleh pengalaman. Berbeda dengan
kaum rasionalis dimana memandang bahwa pengalaman dengan akal hanyalah
mempunyai fungsi mekanis semata-mata. Karena pengalaman dengan akal mewujudkan
kelebihan dan kekurangan.
Dimaksud dengan pengalaman adalah keseluruhan atau totalitas pengamatan yang
disimpan dalam ingatan atau digabungkan dengan suatu harapan akan masa depan,
sesuai dengan apa yang telah diamati pada masa lalu.
b.
John Lockes (1632-1704)
Bagi
Lockes menganggap manusia sebagai “lemabaran kertas putih” dan pengalaman
dibagi menjadi 2 yaitu lahiriah dan batiniah. Kedua sumber pengalaman itu
mengahasilkan ide-ide tunggal. Ruh manusia bersifat sekali pasif dalam
meneriman ide-ide. Namun ruh memiliki aktivitas.
c.
George Berkeley (1665-1753)
Teorinya immaterialisme atau dasar ilmu empiris. Yang ada hanyalah pengalaman
ruh saja. Dunia material sama saja dengan ide-ide yang secara alami.
d.
David Hume (1711-1776)
Menurut penulis sejarah filsafat, empirisme berpuncak pada David Hume, sebab
menggunakan prinsip-prinsip empiristis dengan cara yang paling radikal.
Pengertian hubungan sebab akibat, menjadi objek kritiknya.
Empirisme,
by. Oktavian Aditya Nugraha, S.Pd ( 12/04/2012 : 14.19 )
Beerling,
dkk. 1988. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogjakarta: PT Bayu Indera Grafika
Claessen
G.J. 1979. Menuju Ke Pemikiran Filsafat. Jakarta : PT. Pembangunan.
Juhaya,
S.Praja. 2003. Aliran-aliran Filsafat dan Estetika. Bandung : Prenada
Media.
Ta'aruf
PENDIDIKAN PRA NIKAH
Seling kenal (ta’aruf) di antara
laki-laki dan perempuan merupakan saat-saat mengesankan dalam hidup. Hal umum
ini terjadi di masa-masa sekolah atau perkuliah, dimana seseorang mulai
mengembangkan perilaku-perilaku yang terarah dalam memilih pasangan hidup.
Usaha mahasiswa adalah saat-saat dimana perkembanan biologis, psikologis, dan
sosial-spiritual seseorang sedang mengalami dinamika kearah kematanan. Islam
mengatur ta’aruf diantara laki-perempuan dengan sedemikian indahnya, melalui
cara-cara yang santun, etis, dan berakhlak, sehingga kedua belah pihak
sama-sama mendapatkan kemanfaatan dan kemaslahatan.
Ta’aruf
dalam islam
Persahabatan dalam islam amat
dianjurkan. Melalui persahabatan,dorongan kemanusiaan untuk menyebarkan rasa
kasih dan sayang dapat terpenuhi. Manusia sebagai makhluk homo sapiens, tidak dapat hidup tanpa bantuan oran lain. Antara
manusia satu dengan manusia yang lain memiliki rasa saling membutuhkan.
Memahami hakekat persahabatan yang
sedemikian maslahat, Miskawaih (1994) menyatakan tidak ada sesuatupun yang
dapat menggantikan arti seorang sahabat yang terpecaya, sehingga mampu membantu
mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Berpijak dari hakekat persahabatan
yang sedemikian penting, sesungguhnya bagaimana Islam mengatur tentang
persahabatan yang umumnya diawali melalui sebuah proses ta’aruf?
Ta’aruf
sebaiknya juga diatur tempat dan
waktunya. Sebaiknya ta’aruf dilakukan
di tempat – tempat yang baik dan terhormat, seperti menuntut ilmu, rumah, atau
di tempat berorganisasi dan berkaya. Sejauh mungkin hindari ta’aruf di tempat – tempat yang kurang
terhormat seperti jalanan, pasar, atau kendaraan yang dapat menyebabkan
terjadinya fitnah maupun gunjingan – gunjingan yang dapat menimbulkan keresahan
pribadi, keluarga maupun masyarakat.
Ta’aruf sebaiknya juga dilakukan pada waktu
– waktu yang tidak mengganggu aktivitas (istirahat) orang lain. Selain itu
dalam berta’aruf diharuskan
melibatkan orang lain atau berkelompok (jangan hanya berdua, terutama untuk
yang berlainan jenis). Ta’aruf yang hanya berdua (berlainan jenis) dapat
menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kejahatan, pelecehan maupun
tindak asusila.
Topik pembicaraan uga lebih baik
diarahkan mengenai hal-hal yan bersifat umum,akademik dan sosial, serta
menghindari masalah pribadi. Adakalanya dalam budaya tertentu pembicaraan
masalah pribadi (privacy) dapat
dianggap tabu atau kurang sopan (etis).
Menyongsong
Masa Pernikahan
Selama masa ta’aruf, umumnya persahabatan antara laki – perempuan dapat
meningkatkan ke relasi yang lebih serius, seperti berpacaran. Namun dalam Islam
berpacaran tidak dianjurkan.
Mengapa? karena selama ini istilah pacaran
selalu dikaitkan dengan bepergian berdua, makan berdua, menikmati waktu
senggang berdua maupun aktivitas-aktivitas lain secara bersama-sama yang dilarang dalam Islam.
Kehidupan
membujang memiliki ciri-ciri : tanggung jawab hanya bersifat personal atau perorangan,
tidak memiliki tanggung jawab kelompok; kebutuhan-kebutuhan biologis,
psikologis, dan sosial-spiritual bersifat individual dan belum dapat dikembangkan
secara optimal; kelekatan emosional lebih sempit, karena hanya tertuju pada
orang tua, saudara dan sahabat; fungsi manusia sebagai khalifah belum sempurna;
serta harkat kemanusiaan tertinggi dari manusia yaitu kasih sayang terhadap
orang lain belum terpenuhi (rahmatan
lil’alamin)
Kehidupan
keluarga memeiliki ciri-ciri : Tanggung jawab pribadi maupun kolektif terpenuhi;
kebutuhan-kebutuhan biologis, psikologis, dan sosial-spiritual dapat berkembang
secara oiptimal; kelekatan emosional lebih luas, karena melibatakan pasangan
suami istri dan anak; fungsi manusia sebagai khalifah sudah sempurna; harkat
kemanusiaan tertinggi berupa kasih sayang terhadap sesama (rahmatan lil ‘alamin) manusia dapat tersalurkan.
Kriteria-kriteria al-Qur’an tentang
kehidupan berkeluarga tertuang dalam surat al-Rum/30:20 dan surat
al-syura/42:43 yang bermakna : (1)
Pemilihan pasangan hidup harus dari jenis sendiri, yang sekufu’ (
seimbang,sebanding,dan setaraf ), baik dari agama, latar belakang keluaraga,
status sosial ekonomi mauapun ketampanan dan kecantikan, (2) Kehidupan pernikahan (berkeluarga) amat menekankan pada fungsi
psikologis angota-anggotanya, seperti kebahagian, ketentraman, kasih sayang,
rasa aman, serta saling mengasihi dan mencintai; walaupun pada dasarnya fungsi-fungsi
laintidak boleh diabaikan, misalnya fungsi biologis dan funsi sosial (
Saabah,1997; Hawari,1998). Oleh karena itu persiapan psikologisuntuk memasuki
kehidupan rumah tangga menjadi urgen dimiliki seorang mahasiswa.
Kondisi psikis dan mental yang diperlukan
dalam memasuki kehidupan berkeluarga antara lain :
1. Kemampuan memahami di antara
masing-masing pasangan, baik yang berkaitan dengan kebiasaan, kesukaan maupun
perilaku-perilaku tertentu yang dimiliki pasangan.
2. Kemampuan untuk menerima apa adanya
dari pasangan, baik kelebihan-kelebihan mauapun kelemahan-kelemahan yang
dimiliki.
3. Kemampuan mengembangkan sifat dan
sikap altruisme, yaitu mementingkan kepentingan dan kesenangan orang lain
(pasangan).
4. Kemampuan mengembangkan sikap
tenggang rasa (toleransi) terhadap perbedaan-perbedaan yan dimiliki pasangan.
5. Kemampuan menghargai potensi-potensi
yang dimiliki oleh pasangan.
Apabila seorang mahasiswa merasa
belum mampudan belum berkeinginan membentuk keluarga , maka islam juga
memberikan jalan keluar yang baik, dengan cara memelihara kesucian diri sampai
Allah memampukan (Q.S al-nur/24/33), melalui aktivitas puasa, berolahraga,
bermasyarakat, maupun menuntut ilmu. Dengan memelihara diri, maka Allah akan
memberikan derajat yang mulia di sisi-Nya, sebagaimana kisah Nabi Yusuf yang
menghindari berbuat zina denan Zulaikha.
by.
oktavian a.n (4 april 2012)
Miskiwaih, 1994. Menuju Kesempurnaan Akhlak. Buku Daras
Pertama Tentang Filsafat Etika. Bandung: Mizan.
Sa’abah, M.U, 1997. Seks dan Kita.
Jakarta: Gema Insani Press.
Shihab, M.Q. 1994. Membumikan Al-Qur’an, Fungsi dan Peran
Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan.
-----------------, 1997. Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudhui
atas Pelbagian Persoalan Umat. Bandung : Mizan.
Arah
jalan-jalan
menuju kebenaran, jiwa tenang bagai gumpalan air, hari akan datang seling
berganti....
makan minum selalu dilakukan, kejadian-kejadian suatu fenomena manakjubkan sepanjang hari...
pengalaman bagai hidup berwarna, tak ada kalanya warna warni dunia membuat goyah diri....
hidup selalu berjalan, terhenti dikematian.
dunia penuh warna, bagai cat tumpah dari wadah rapatnya...
tindakan hari ini menjadi pegalaman hidup semuanya...
pagi mencari sesuap nasi, memanjakan waduk kita....
siang mencari hasil, memanjakan kehidupan kita....
malam mencari sang pemimpi, menyempurnakan kelelahan kita....
lelahnya jiwa,, tak selelah pikiran ...
lelahnya roh, tak selelah tindakan...
jalan-jalan lurus tak berlobang, akan mulus arah ini....
jalan-jalan rusak berlubang, memberi goncangan terasa berat ...
kelurusan, kesatuan, keseimbangan hidup terjaga dijaga....
makan minum selalu dilakukan, kejadian-kejadian suatu fenomena manakjubkan sepanjang hari...
pengalaman bagai hidup berwarna, tak ada kalanya warna warni dunia membuat goyah diri....
hidup selalu berjalan, terhenti dikematian.
dunia penuh warna, bagai cat tumpah dari wadah rapatnya...
tindakan hari ini menjadi pegalaman hidup semuanya...
pagi mencari sesuap nasi, memanjakan waduk kita....
siang mencari hasil, memanjakan kehidupan kita....
malam mencari sang pemimpi, menyempurnakan kelelahan kita....
lelahnya jiwa,, tak selelah pikiran ...
lelahnya roh, tak selelah tindakan...
jalan-jalan lurus tak berlobang, akan mulus arah ini....
jalan-jalan rusak berlubang, memberi goncangan terasa berat ...
kelurusan, kesatuan, keseimbangan hidup terjaga dijaga....
Langganan:
Postingan (Atom)