Senin, 13 Januari 2014

Drama

MAKNA DRAMA
Drama merupakan tiruan kehidupan manusia yang diproyeksikan di atas pentas. Melihat drama, penonton seolah melihat kejadian dalam masyarakat. Kadang-kadang konflik yang yang disajikan dalam drama sama dengan konflik batin mereka sendiri. Drama adalah potret kehidupan manusia, potret suka duka, pahit manis, hitam putih kehidupan manusia. Apabila menyebut istilah drama, maka kita berhadapan dengan dua kemungkinan, yaitu “drama naskah dan drama pentas” keduannya bersumber dari naskah.
            Perkataan drama berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti perbuat, tindakan atau beraksi (action). Drama naskah merupakan salah satu genre naskah yang disejajarkan dengan puisi dan prosa. Drama pentas merupakan jenis kesenian mandiri, yang merupakan intregrasi antara berbagai jenis kesenian seperti musik, tata lampu, seni lukis (dekor,penggung), seni kostum, seni rias, dan sebaginya. Drama naskah dapat diberi batasan sebagai salah satu jenis karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog yang didasarkan atas konflik batin dan mempunyai kemungkinan dipentaskan.
            Sebagai karya sastra bahasa drama adalah bahasa saatra karena itu sifat konotatif juga dimiliki. Perkataan drama sering dihubungkan dengan teater. Sebenarnya perkataan “teater” mempunyai makna yang lebih luas karena dapat berarti drama, gedung pertunjukan, panggung, dan lain-lain.
                                                                                                
STRUKTUR DALAM DRAMA
  1. Plot atau Kerangka Cerita
Plot merupakan jalinan cerita atau kerangka dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh yang berlawanan. Jalinan konflik dalam plot itu biasanya meliputi hal-hal berikut ini :
1). Protasis (jalinan awal)
2). Epitasio
3). Catarsis
4). Catastrophe (Aristoteles)
Menurut Gustaf Freytag unsure-unsur plot lebih lengkap ;
1). Exsposition atau Pelukisan Awal Cerita
      Perkenalkan tokoh-tokoh dengan watak masing-masing.
2). Komplikasi atau Pertikaian awal
3). Klimaks atau Titik Pucak Cerita
4). Resolusi atau penyelesaian atau falling action
5). Castastrope atau Denoument atau kepetusan
                        Plot drama ada 3 jenis (1) Sirkuler “cerita bekisar pada satu peristiwa saja” (2) Linear “cerita bergerak sesuai dengan urutan A-Z” (3) Episodik “jalan cerita terpisah namun bertemu lagi pada akhir cerita”. Plot menerut Lajo Egri (1) Slow Rising Conflict (2) Static Conflik (3) Jumping Conflict. Heryaman (1) plot biasa (2) renggang  (3) rapat. Alfred N. Frieman (1) Alur peruntungan (2) Alur penokohan (3) Alur pemekiran.

  1. Penokohan dan Perwatakan
Tokoh antagonis “tokoh penentang arus cerita”. Tokoh protagonis. Klasifikasi tokoh :
1). Berdasarkan peranannya terhadap jalan cerita
a. Tokoh protagonis “pendukung cerita, biasanya tokoh utama”
b. Tokoh antagonis “penentang cerita, menentang cerita”
c. Tokoh tritagonis “tokoh pembantu”
2). Berdasarkan peranannya dalam lakon serta fungsinya
a.       Tokoh sentral “tokoh paling menentukan gerak lakon”
b.      Tokoh utama “tokoh pendukung atau penetang tokoh dentral”
c.       Tokoh pembantu “memegang peran pelangkap”
Perwatakan meliputi
1). Keadaan fisik meliputi “umur, jenis kelamin, cirri-ciri tubuh, cirri khas.
2). Keadaan psikis meliputi “watak, kegemaran, mentalitas, ambisi, dll.
3). Keadaan sosiologis meliputi “jabatan, pekerjaan, ras, agama, dll.

  1. Dialog (percakapan)
Ciri khas suatu drama adalah naskah itu berbentuk cakapan ataui dialog. Dalam menyusunnya pengarang harus benar-benar memperhatikan pembicaraan tokoh-tokoh dalam kehidupan sehari-hari. Ragam bahasa dalam dialog drama adalah bahasa lisan yang komunikatif dan bukan ragam bahasa tertulis. Drama adalah kenyataan yang diangkat ke atas pentas.

  1. Setting/Landasan/Tempat Kejadian
Seting atau tempat kejadian cerita sering pula disebut latar cerita. Biasanya meliputi tiga dimensi “tempat, ruang, dan waktu”.

  1. Tema/Nada Dasar Cerita
Tema merupakan gagasan pokok yang terkandung dalam drama. Tema merupakan “struktur dalam” dari sebuah karya sastra. Tema juga berhubungan dengan sudut pandang. Tema berhubungan dengan faktor dalam dari lubuk hati pengarangnya. Aliran filsafat mendasari terciptanya naskah drama adalah
1)      Aliran klasik “mempunyai tema duka cita, naskah dialog panjang”
2)      Aliran romantik “tidak logis, cerita bunuh-membunuh, teriak-teriakan, dll”
3)      Aliran realisme “ melukiskan kejadian apa adanya, bukan berlebihan”
4)      Aliran ekspresionisme “seni menyatakan”
5)      Aliran eksistensialisme “mengikuti aliran ekspresionisme”

  1. Amanat/Pesan Pengarang
Amanat yang hendak disampaikan pengarang melalui dramanya harus dicari oleh pembaca dan penonton. Amanat sebuah drama akan lebih mudah dihayati penikmat, jika drama itu dipentaskan, amanat itu biasanya memberikan manfaat dalam kehidupan secara praktis.

  1. Petunjuk Teknis
Sering juga disebut dengan teks samping, juga berfungsi sekali untuk memberikan petunjuk kapan aktor harus diam, pembicaraan pribadi, lama waktu sepi antar kedua pemain, jeda-jeda kecil atau panjang, dan lain-lain.

  1. Drama Sebagai Intreprestasi Kehidupan

Erat dengan hubungannya dengan nada dasar atau pandangan dasar penulis drama itu. Pengarang menginterpretasikan kehidupan sebagai tempat menyedihkan, seakan-akan menghasalkan drama tragedi. Jadi drama sebagai interpretasi terhadap kehidupan, drama mempunyai kekayaan batin tiada tara.


Daftar Pustaka : 

Waluyo, Herman J. 2002. Drama: Teori dan Pengajarannya. Yogyakarta : Hanindita Graham Widya 


Oktavian Aditya Nugraha
Senin 13 Januari 2014 / 18.15 WIB

Sastra Banding

Pengertian Sastra Banding

Sapardi Djoko Damono (2005: 2) menyatakan bahwa sastra bandingan meruakan pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori tersendiri.
          Menurut Remak (1990, 1) Sastra bandingan adalah kajian sastra di luar baas-batas sebuah negara dan kajian hubungan di antara sastra dengan bidang ilmu serta kepercayaan yang lain seperti seni (misalnya, seni lukis, seni uir, seni binda dan seni musik), filsasfat, sejarah, dan sains sosial (misal politik, ekonomi, sosiologi) sain, agama, dll.
Menurut Nada (1999,9), sastra bandingan adalah suatu studi atau kajian sastra suatu banggsa yang mempunyai kaitan kesejarahan dengan sastra bangsa lain, bagaimana terjalin proses saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya, apa yan telah diambil sautu sastra, dan apa pua yan telah disumbangkanya.
Benedecto Crose (Giffo, 1995:1) study sastra banding adalah kajian yang berupa eksplorasi perubahan, penggantian, pengembangan, dan perbedaan timbal balik antara diantara dua karya atau lebih.
Sastra banding adalah wilayah keilmuan sastra yang mempelajari keterkaitan antara sastra dan perbandingan sastra dengan bidang lain.
Sastra banding adalah sebuah teks across cultural.

Konsep-konsep sastra banding
Hakikat kajian sastra banding
Sastra banding sering disebut disingkat sanding, dan sastra perbandingan disingkat dengan sasper. Sastra banding adalah sebuah teks across cultural. Benedecto Crose (Giffo, 1995:1) study sastra banding adalah kajian yang berupa eksplorasi perubahan, penggantian, pengembangan, dan perbedaan timbal balik antara diantara dua karya atau lebih.
Sastra banding adalah wilayah keilmuan sastra yang mempelajari keterkaitan antara sastra dan perbandingan sastra dengan bidang lain. Jalin–menjalin karya sastra dimungkinkan, karena setipa pengarangan menjadi bagian dari penulis lain. Dengan kata lain, istilah sanding dan sasper dalam konteks ini digunakan bersama-sama. Namun, untuk mempermudah akan digunakan sanding, karma lebih akrab dan sering digunakan dalam berbagai forum ilmiah yang paling terkemuka.

Ilmu sastra banding
            Ilmu sastra menjadi pijakan sastra banding. Tujuan sastra banding (1) untuk mencari pengurut karya sastra satu dengan yang lain. (2) untuk menentukan karya sastra yang benar-benar orinisial dan mana yang bukan dalam lingkup perjalanan sastra. (3) untuk menghilangkan kesan karya sastra nasional tertentu lebih hebat disbanding karya sastra nasional yang lain. (4) mencari keragaman budaya dalam karya sastra. (5) untuk memperkokoh keuniversalan konsep-konsep keindahan karya sastra. (6) menilai mutu karya-karya dari negara-negara dan keindahan karya sastra.
            Sastra banding awalnya memang berkembangan di Prancis, Inggris, Jerman dan Negar-Negara Eropa lainnya dan melebar ke Amerika dan Asia umumnya. Selanjutnya sastra perbandingan telah melebar ke wilayah nonsastra.   
           
Perbedaan konsep sastra banding, sastra nasional, dan sastra dunia
Kajian sastra bandingan tidak dapat mengabaikan peranan sastra nasional yang lama-kelamaan akan menjadi sastra dunia. Sastra nasional ini adalah batas wilayah politik suatu negara. Sastra dunia adalah sastra yang memuat pandangan-pandangan universal atau mendunia.

Sudut Pandang
Sastra Bandingan
Sastra Dunia
Ruang
Hubungan karya (pengarang) dari dua negara
Hubungan yang menyentuh seluruh dunia (biasanya dunia barat)
Waktu
Boleh membandingkan sastra dari jaman apa saja (sastra lama ataupun baru)
Ketokohan karya dikaitkan dengan waktu kelahirannya. Sastra mutakhir tidak masuk kajian
Kualitas
Karya yang dipilih untuk dibandingkan tidak pada kehebatannya (bermutu)
Hanya terbatas pada karya agung
instensitas
Karya sastra yang belum terkenal dapat terangkat ke atas, sastra dunia.
Menunggu hasil dari sastra bandingan

Untuk memahami interks di antara dua karya dari dua negara, tentu memerlukan penguasaan bahasa negara masing-masing. Itulah sebabnya model interks utama adalah penguasaan bahasa masinh-masing pemilik sastra.

Perkembangan Sastra Banding
Sastra Bandingan dalam kajian umum serta dalam kaitannya dengan sejarah ataupun yang lainnya adalah bagian dari sastra. Bagaimana menghubungkan sastra yang satu dengan yang lain, dan bagaimana pengaruh keduanya, serta apa yang dapat diambil dari sastra ini dan apa yang diberikannya. Atas dasar inilah kajian dalam sastra bandingan bersifat berpindah dari satu sastra ke sastra yang lain.
Terkadang perpindahan ini dari segi lafadz-lafadz bahasa atau dalam tema serta dalam gambaran yang di perlihatkan sastrawan dalam temanya, atau berupa karya-karya seni. Batasan-batasan yang memisahnya antara sastra dengan yang lain pada kajian perbandingan terletak pada bahasa-bahasa. Maka perbedaan antara bahasa adalah syarat untuk membangun kajian sastra banding. Pengaruh-pengaruh sastra yang ditulis dengan satu sama lain dan perbandingan yang terjadi antara sastrawan satu dengan yang lain mengenai bahasa yang satu tidak pula masuk bahasan sastra banding.
        Dalam sastra bandingan kajian sastra dapat dilakukan dengan mengambil hanya dua karya sastra, misalnya dua sajak, dari sastra nasional yang berbeda. Selain itu sastra bandingan mencakup pula kajian tentang hubungan karya-karya sastra dengan berbagai bidang diluar kesusasteraan, misalnya dengan ilmu pengetahuan, agama, dan karya-karya seni.

Ruang Lingkup Penelitian Sastra Banding
 Ruang lingkup :
      a.       Kajian sastra banding itu sendiri
      b.      Antara karya sastra dengan bidang lain, kadang-kadang terjebak pada refleksi saja.
      c.       Berupa bandingan mengenai perkembangan sejarah, teori, dan kritik sastra.
Dari luang lingkup demikian, sastra banding digolongkan menjadi dalam empat bidang utama yaitu :
  1. Kajian bersifat komparatif, Kajian ini terutama dititik beratkan pada penelaahan teks karya-karya sastra yang dibandingkan, misalnya karya sastra A dengan karya sastra B. Dapat dikatakan bahwa kajian ini merupakan titik awal munculnya sastra bandingan, oleh karena itu, kajian ini selalu dipandang sebagai bagian terpenting dalam kajian sastra bandingan.
  1. Kajian bersifat histories, Kajian yang bersifat historis ini lebih memusatkan perhatian pada nilai-nilai historis yang melatarbelakangi kaitan antara satu karya sastra dengan karya sastra lainnya. Kajian ini dapat berupa, misalnya, masuknya satu buah pikiran, aliran, teori kritik sastra ataupun jenre dari satu Negara ke Negara lainnya.
  1. Kajian bersifat Teoritis, Kajian yang bersifat teoritis ini menggambarkan tentang konsep, cerita, batasan, ataupun aturan-aturan dalam berbagai bidang kesusastraan. Sebagai contoh adalah konsep-konsep mengenai berbagai aliran, criteria jenre, teori-teori pendekatan, serta batasan-batasan yang berkaitan dengan masalah tema.
  1. Kajian bersifat antar-disiplin, Sifat kajian ini sesuai dengan judulnya, tidak menelaah karya-karya sastra semata-mata, melainkan membicarakan hubungan antara isi karya sastra dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, agama, dan bahkan juga karya-karya seni.

Konsep Pengaruh sastra banding; asli, terjemah, dan tradisi
            Kajian konsep pengaruh, merupakan titik terpenting bagi studi sastra bandingan.
Keterpengaruhan ini akan dipengaruhi oleh :
  1. Perkembangan karir pengarang
  2.  Proses penciptaan pengarang
  3. Tradisi atau budaya pengarang
Pengarang yang secara langsung dan tampak sekali terpengaruh sumber asli disebut “transmitter”. Pengaruh tak langsung “intrermediary”. 
           Dikemukakan oleh Carre dab Guyard (Remak,1990:2) bahwa kajian bandingan dipengaruh dianggap kurang menyakinkan, sebaliknya perbandingan lebih baek diarahkan kepersoalan penerimaan, perantara perjalanan pengarang dan sikap seseorang pengarang terhadap sebuah negara pada masa tertentu.

Intertekstualitas dan Sastra Bandingan
Masalah transformasi tidak hanya menyangkut perubahan dari karya sastra yang satu menjadi karya sastra yang lain, tetapi juga perubahan dari jenis karya nonsastra menjadi karya sastra. Dan sejumlah kasus yang perlu mendapat perhatian, barangkali- bukanlah pada perbedaan bahasa, geografi, politik atau negara, tradisi dan kebudayaan, melainkan pada metodologinya. Jika yang diperbandingkan sebatas teksnya semata-mata tanpa menghubungkannya dengan faktor-faktor ekstrinsik maka sebut saja itu sebagai sastra bandingan dengan pendekatan intertekstualitas. Tetapi jika perbandingannya itu dilanjutkan dengan penjelasan mengenai hal yang menyangkut perbedaan sosiokultural yang melingkari diri pengarang masing-masing maka sebut saja itu sebagai studi sastra bandingan dengan pendekatan sosio-kultural. Justru dalam hal inilah, studi sastra bandingan, tidak hanya akan menjadi studi interdisipliner tetapi juga, pada gilirannya, menurut kritikus melebarluaskan wawasan dan pengkajiannya sekaligus.
            Dalam kasus Oedipus dan Sangkuriang, misalnya, mengapa Oedipus sempat menjadi suami perempuan yang sebenarnya ibunya sendiri, sedangkan Sangkuriang, menikah pun dengan Dayang Sumbi belum sempat? Tentu saja persoalnnya menjadi jelas jika kita menghubungkan kultur Sunda pada diri Sangkuriang dengan kultur Barat pada Oedipu. Sangat boleh jadi, Oedipus tidak mengenal Konsep “Anak Durhaka” dan “Surga berada di bawah telapak kaki Ibu.” Mengapa konflik Magdalena Al-Manafaluthi lebih banyak di latarbelakangi oleh persoalan harta kekayaan dan harkat dan derajat keluarga, sedangkan konflik Tenggelamnya Kapal van der Wijck Hamka, dilatarbelakngi oleh masalah adapt (Minang).
Yang jelas bahwa penjelasan sosiokultural dalam studi sastra bandingan agaknya, perlu mendapat tekanan, betapapun itu memerlukan disiplin ilmu lain. Dengan cara ini, niscaya studi sastra bandingan akan memberi sumbangan berarti bagi usaha memahami kebudayaan suatu bangsa. Dengan cara itu pula, terbuktilah bahwa bahasa (sastra) merupakan juga cerminan identitas bangsa.

Metode Penelitian Sastra Banding
Sastra banding adalah salah satu metode study sastra. Dan karena metode-metode bagian sastra banyak dan berhubungan satu sama lain dan ini membantu menjelaskan kedudukan sastra banding di antara metode-metode yang menetapkan masing-masing kepentingannya :
1.      Sudut Pandang Sastra adalah merupakan metode yang membahas mengenai sejarah munculnya dan perkembangan sastra dari masa ke masa.
2.      Kritik Sastra adalah merupakan metode yang membahas karya-karya sastra, misalnya sebuah novel atau puisi, dengan mempergunakan teori-teori kritik sastra.
3.      Sejarah Sastra adalah merupakan metode yang berusaha mengungkapkan latar belakang, dan perkembangan berbagai aspek sastra, misalnya karya sastra, bentuk sastra, aliran sastra, ataupun teori sastra.Ketiga metode ini tidak selalu berdiri sendiri karena kadang-kadang ada kaitan satu sama lainnya dan perbedaan diantara metode-metode ini berdasarkan sudut pandang yang kita lihat dari sastra itu sendiri
Metode sastra banding tidak jauh beda dengan metode kritik sastra, yang objeknya lebih dari satu karya. Pada dasarnya metode sastra banding dapat dikelompokkan menjadi dua golongan :
  1. Metode perbandingan diakronik, untuk membandingkan dua karya sastra atau lebih yang berbeda periode penciptaan.
  2. Metode pernbandingan sinkronik, perbandingan karya sastra yang sezaman.

Metode seperti ini sebenarnya lebih kearah hal ikhwal yang harus dibandingkan, lebih menitik beratkan tentang objek-objek seperti apa yang patut dibandingkan. Sedangkan baaimana perbandingan itu harus dilakukan, sebenarnya sangat longgar, artinya sastra banding belum memiliki tradisi khusus. Metode penmgumpulan data, menganalisa, menafsirkan, dan menilai adalah cara yang tepat untuk ini.  


Daftar Pustaka :
Endaras, Suwardi. 2003. Metodelogi Penelitian Sastra Epistimologi, Model, Teori dan aplikasi. Yogjakarta ; Pustaka W.
http//www.sastra banding.com. Sapardi Djoko Damono (2005: 2)
Mahayana, Maman S, 9 jawaban sastra Indonesia, Jakarta: Bening Publishing,2005.
Malibara, Ahmad Akram, Muqaddimah fil Adab al Muqaran, Jakarta: UINJKT,2000
Razali kasim, Sastra Bandingan Ruang Lingkup dan Metode (Medan Universitas Sumatera Utara, 1996)

Oktavian Aditya Nugraha
( Senin 13 Januari 2014) 18.00 WIB

Minggu, 17 November 2013

Konflik Batin Novel Bumi Cinta


AKONFLIK BATIN DALAM NOVEL BUMI CINTA  KARYA                               HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA

B. Latar Belakang Masalah
            Novel adalah uraian cerita dari sebagian besar kehidupan manusia yang ditokohkan dalam cerita tersebut yang didalamnya terdapat berbagai jenis masalah yang harus dihadapi tokoh tersebut. Masalah-masalah yang diuraikan dalam novel yang harus dihadapi oleh tokoh tersebut ternyata bukan hanya terbatas pada cerita saja, tetapi ada kemungkinan juga terdapat pada masyarakat luas (pembaca). Dengan demikian ada kalanya pembaca yang sedang mengalami masalah seperti dalam novel yang dibaca, mereka akan mengambil jalan untuk menyelesaikan masalah tersebut seperti dalam novel yang dibacanya.
            Karena banyak mengandung uraian mengenai masalah psikologi dan sosial novel banyak digemari oleh masyarakat  pembaca, di samping sebagai bacaan hiburan tentunya. Banyak novel yang dipublikasikan dengan cara disisipkan dalam majalah sebagi bonus tambahan untuk menarik pembaca, maupun langsung diterbitkan sebagai novel yang diwujudkan buku. Bagaimana dengan penelitian baik dan buruk novel novel tersebut ? baik buruk novel tersebut tentu tergantung kepada siapa yang menilai suatu karya. Artinya penilaian tersebut disesuaikan dengan selera  maupun kadar pengetahuan masing-masing pembaca. Itulah yang dijadikan tolak ukur.
            Novel sebagai kreasi manusia yang diangkat dari realitas kehidupan, tetapi realitas yang terdapat di dalamnya bukan lagi realitas yang utuh. Peristiwa kemasyarakatan yang tertulis  di dalamnya telah mengalami metamorphose imajinasi dalam diri pengarang. Dengan kata lain realitas tersebut adalah realitas realitas hasil proyeksi, atau sesuatu yang diproyeksikan kembali oleh pengarangnya dengan menggunakan daya imajinasi sesuai dengan kenyataan jiwa pengarang, yang berupa pengalaman hidup yang manis maupun pahit di dalam prosesnya. Hal ini merupakan suatu karya sastra disebut sebagi karya imajinatif.
            Seperti novel karya Habiburrahman El Shirazy yang tergolong angkatan baru, mengandung unsur konflik yang dialami tokoh utama yaitu Ayyas sebagi peran penting dalam novel yang berjudul “Bumi Cinta” dari sini kita bisa menganalisis masalah-masalah apa sajakah yang terdapat dan dialami tokoh tersebut. Sangat tokoh pria ini seorang santri salaf yang hidup di Negara yang menjunjung tinggi seks bebas dan pornografi yaitu Rusia. Iman dan kehormatannya dipertaruhkan demi memenuhi hasrat duniawi nonik-nonik muda Moskow. Hidup di negara Rusia di kota Moskow tepatnya teringat selalu bayangan Yelena dengan segala keindahan tubuhnya, yang baru saja dilihatnya meskipun hanya sekejap, seolah-olah hadir di pelupuk matanya. Bayangan wajah cantik Anastasia Palazzo juga menari-nari dalam pelupuk matanya. Kedua wanita tersebut ibarat virus yang hadir di dalam kehidupan Ayyas, yang ingin segera mungkin menghilangkannya secepat mungkin.
            Meskipun dengan shalat dan membaca Al-Quran, virus itu tidak mudah terdelet dengan sempurna, masih tersisa bayangan mereka berdua dan hanya bisa dijinakkan. Ayyas membaca istighfar berulang kali sampai tujuh kali. Ayyas berdzikir sampai tidurnya pulas, dan Ayyas bermimpi ada duan ekor ular masuk dalam kamarnya dan memburunya.
            Dari hal inilah penulis mencoba mengkaji konflik batin yang dihadapi tokoh dalam novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul “Bumi CInta”. Cerita yang bagus dan mengharukan membuat pembaca seakan-akan  ikut dan mengalami akan hal itu. Mengingat konflik batin sungguh terasa dan kelihatan dalam novel ini. Pembaca diharapkan bisa menemukan gagasan yang sesuai dengan alur cerita tersebut.
C . Rumusan Masalah
            Untuk mendapatkan hasil penelitian yang terarah, maka diperlukan suatu rumusan masalah. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini sebaai berikut:
1.      Bagaimana struktur yang membangun novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul “Bumi Cinta” ?
2.      Bagaimana konflik batin tokoh novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul “Bumi Cinta” dengan tujuan psikologi sastra ? 
D. Tujuan Penelitian
            Tujuan penelitian haruslah jelas supaya tepat sasaran. Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Mendeskripsikan struktur yang membangun novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul “Bumi Cinta”.
2.      Mendskripsikan konflik batin tokoh utama novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul “Bumi Cinta”.
E. Manfaat Penelitian
            Pada prinsipnya penelitian ini diharapkan dapat berhasil mencapai tujuan penelitian secara optimal, menghasilkan laporan yan sistematis dan dapat bermanfaat secara umum. Adapun manfaatnya adalah:
  1. Manfaat Teoritis
Dapat menambah pengetahuan dalam khasanah ilmu kesusastran mengenai karakteristik, perwatakan, kepribadian dan lain-lain serta konflik batin yang dirasakan pemeran tokoh utama dalam sebuah novel secara jelas dan mendiskripsikan dalam bentuk yang lebih mudah dipahami secara langsung oleh pembaca. Dan khususnya dalam studi sastra dengan tinjauan psikologi sastra.
  1. Manfaat Praktis
a.       Memberikan masukan dalam pengembangan apresiasi sastra khususnya bidang novel.
b.      Mengetahui analisis konflik batin yang terdapat dalam novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul “Bumi Cinta”.
c.       Penelitian ini dapat dijadikan referensi apabila ada yang meneliti masalah konflik batin dalam novel dengan tinjauan psikologi sastra.
F. Kajian Penelitian yang Relevan
            Pada hakekatnya, suatu penelitian tidak beranjak dari nol secara murni. Akan tetapi secara umum telah ada acuan yang mendasari atas penelitian yang sejenis. Oleh karena itu, perlu mengenali peneliti yang terdahulu dan ada relevansinya. Dalam penelitian ini penulis mengacu pada penelitian yang terdahulu dan relevan dilaksanakan saat ini.
            Penelitian yang dilakukan Wahyu Widiyanto (2003) Skripsinya “Analisis Struktur dan Sosiologi Sastra Novel Pol Karya Putu Wijaya”. Menyimpulkan bahwa alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur maju. Temanya adalah seorang warga penduduk miskin bermimpi bertemu semar tokoh pewayangan yang menghebohkan warga masyarakat. Masalah yang menonjol dalam novel ini adalah kemiskinan dan konflik yang terjadi angota masyarakat. Hubungannya dengan penelitian kami dalam konflik batin tokoh dalam novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul “Bumi Cinta”.
               Penelitian yang dilakukan Ari Astuti (UNS, 2005) yang berjudul “Perilaku Abnormal dalam novel Pintu Terlarang karya Sekar Ayu Asmara: Pendekatan Psikologi Sastra”. Dalam hasilnya dimana perilaku Abnormal terdapat dua macam yaitu neurotik dan psikotik. Neurotik diantaranya perilaku pobia, distress, perilaku social detektif, kecemasan rill, dan kecemasan neurotik. Yang termasuk psikotik adalah psikotik fungsional. Kaitannya denangan penelitian kami sama-sama mengkaji tentang masalah psikologi sastra tatapi dalam konflik batin tokoh dalam novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul “Bumi Cinta”.
Penelitian dilakukan oleh Astin Nugraheni (UMS,2006) skripsi “konflik batin tokoh zaza dalam novel azela jingga karya nanin pranoto: tinjauan psikologi sastra”. Zaza harus dihadapi dengan dua pilihan yang berat antara kesetiaan serta kecintaan seorang istri terhadap suaminya. Dalam penelitian kami mengkaji  dalam konflik batin tokoh dalam novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul “Bumi Cinta”.
Penelitian yang dilakukan oleh Nawang Yuanti (2007) skripsinya “Tingkah Laku Abnormal Tokoh Santo Dalam Novelet Tulalit Karya Putu Wijaya: Tinjauan Psikologi Sastra”. Dimana tokoh Santo yang mengalami abnormal, yang mengalami gangguan egois. Hubungannya dengan penelitian kami dalam konflik batin tokoh dalam novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul “Bumi Cinta”. 
            Penelitian yang dilakukan oleh Lucky Puspitasari (2007). Skripsi yang berjudul “Perilaku Seksual Dalam Novel Larung Karya Ayu Utami: Analisis Psikologi Sastra”. Dimana dalam novel tersebut terdapat empat macam perilaku seksual (1) perilaku seksual Immoralitas/Promiscuity. (2) perilaku seksual Sadisme, (3) perilaku seksual Mesokhisme, (4) perilaku seksual Biseksual. Hubungannya dengan penelitian kami dalam konflik batin tokoh dalam novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul “Bumi Cinta”.
Berdasarkan uraian tentang hasil penelitian terdahulu, maka orisinalitas maupun kebenarannya penelitian dengan judul “konflik batin tokoh dalam novel BUMI CINTA  karya : Habiburrahman El Shirasy  tinjauan psikologi sastra” 
G. Landasan Teori
1.      Novel
Dalam kesusastraan dikenal bermacam-macam jenis sastra (genre). Menurut Warren dan Wallek (1995: 298) bahwa genre sastra bukan sekedar nama, karena konvensi sastra yang berlaku pada suatu karya membentuk ciri karya tersebut. Menurutnya, teori genre adalah suatu prinsip keteraturan. Sastra dan sejarah sastra diklasifikasikan tidak berdasarkan waktu dan tempat, tetapi berdasarkan tipe struktur atau susunan sastra tertentu. Genre sastra yang umum dikenal adalah puisi, prosa dan drama.
Menurut Nurgiyantoro (1995 : 1) Dunia kesusastraan mengenal prosa (Inggris: prose) sebagai salah satu genre sastra di samping genre-genre yang lain. Prosa dalam pengertian kesusastraan juga disebut fiksi (fiction), teks naratif (narrative text) atau wacana naratif (narrative discourse). Istilah fiksi dalam pengertian ini berarti cerita rekaan (disingkat: cerkan) atau cerita khayalan.
Bentuk karya fiksi yang berupa prosa adalah novel dan cerpen. Novel sebagai sebuah karya fiksi menawarkan sebuah dunia, dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dinia imajinatif, yang dibangun melalui sebagai unsur instrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain, yang kesemuannya tentu bersifat naratif.
Novel berasal dari bahasa italia novella, yang dalam bahasa jerman Novelle, dan dalam bahasa Yunani novellus. Kemudian masuk ke Indonesia menjadi novel. Dewasa ini istilah novella dan novella mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia novelette (Inggris: novelette), yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cakupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek. Novel merupakan karya fiksi yang mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan disajikan dengan halus (Nurgiyantoro, 1995: 9)
 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1995 : 694) Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.
Unsur intrinsik novel :
a.       Tema
yaitu pokok pikiran, gagasan atau ide utama, kaitannya denagn nilai-nilai hidup dan tingkah laku, bisa simbolik bisa eksplisit, bisa tersirat bisa langsung, domonan/tidak, dangkal/murahan atau malah dalam dan sarat makna, faktor yang bikin si penulis angkat topik ini.
b.      Amanat
yaitu pesan moral, apakah itu berupa perintah, saran atau masukan/himbauan yang berarti bagi pembacayang dituju.
c.       Plot/Alur
Rangkaian peristiwa, maju/mundur/kombinasi dari keduanya, kasualitasnya gimana, kronologis ato nggak, gimana awal, akhir, tengah, apa rangasangannya, apa klimaksnya, gimana endingnya.
d.      Perwatakan Tokoh
Gimana sifatnya, protaginist/ antagonis, starring/figuran/pelengkap. jahat/baek, sombong/rendah hati...confidant/penghalang.penggerak cerita.
e.       Latar
waktu, tempat, suasana, situasi
f.       Sudut Pandang
Teknik penceritaan, aku/ dia/ saya/ mereka/ kita/ kami, penutur kisah, orang pertama mayor/minor/orang kedua/ketiga.
g.      Gaya Bahasa
Formal non formal, baku/tidak, sopan/kasar, bahasa daerah apa bukan, apakah hasil transisi alias terjemahan, adanya majas kiasan.

2.      Teori Struktural Sastra
Analisis structural sastra disebut juga pendekatan objektif dan menganalisis unsur intrinsiknya, Fananie (dalam Widyawan 2009:11) mengemukakan bahwa pendekatan objektif adalah pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra sastra secara keseluruhan.
Strukturalisme merupakan sebuah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sebuah struktur yang terbangun dari unsur-unsur yang saling berkaitan antara satu sama lain secara totalitas dan bersifat otonom. Struktur berarti tata hubungan antara bagian-bagian suatu karya sastra atau kebulatan karya sastra itu sendiri. (Sudjiman dalam Aryanto. 2007:8).
3Pendekatan Psikologi Sastra
                        Branca (dalam Walgito, 1997:8) menguntarakan bahwa psikologi merupakan ilmu tentang tingkah laku, dalam hal ini adalah menyangkut tingkah laku manusia.
                        Psikologi merupakan suatu ilmu yang menyelidiki dan mempelajari tentang tingkah laku atau aktivitas-aktivitas manusia, tingkah laku serta aktivitas-aktivitas itu merupakan manifestasi hidup kejiwaan (Walgiot, 1997:9).
                        Psikologi meliputi ilmu  pengetahuan mengenai jiwa yang diperoleh secara sistematis dengan metode-metode ilmiah yang dimufakatin sarjana psikologi zaman ini. Psikologi modern memandang bahwa jiwa dan raga manusia adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, kegiatan jiwa tanpak pada kegiatan raga (Gerunan, 1993:3).
                        Penelitian psikologi sastra dilakukan dengan dua cara. Pertama, melalui pemahaman teori-teori psikologi kemudian diadakan analisis terhadap suatu karya sastra. Kedua, dengan terlebih dahulu memutuskan sebuah karya sastra sebagai objek penelitian, kemudian ditentukan teori-teori yang dianggap ditentukan untuk melakukan analisis (Ratna, 2004:344).
                        Siswanto (2004:32) mengemukakan psikologi sastra mempelajari fenomena kejiwaan tertentu yang dialami oleh tokoh utama dalam karya sastra ketika merespon atau bersaksi terhadap diri dan linkungan, dengan demikian gejala kejiwaan dapat terungkap lewat tokoh dalam sebuah karya sastra.
                        Sebagai disiplin ilmu, psikologi sastra dibedakan tiga pendekatan, yaitu (1) Pendekatan Ekspresif, yaitu kajian aspek psikologis penulis dalam proses kreativitas yang terproyeksi lewat karya sastra. (2) Pendekatan Tekstual, yaitu mengkaji aspek psikologi sang tokoh dalam sebuah karya sastra. (3) Pendekatan Reseptif Pragmatik yang mengkaji aspek psikologi pembaca yang terbentuk setelah melakukan dialog dengan karya yang dinikmatinya serta proses kreatif yang ditempuh dalam menghayati teks (Amirnuddin, 1990:89)
                        Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa pendekatan psikologi sangatlah tepat digunakan untuk menganalisis konflik batin tokoh utama dalam novel. Pendekatan psikologi digunakan karena konflik batin dalam diri tokoh utama sangat berhubungan dengan tingkah laku dan kehidupan psikis seorang tokoh utama.
            4. Hubungan Antara Psikologi dengan Sastra
                        Sastra dan Psikologi mempelajari keadaan kejiwaan orang lain. Namun antara sastra dengan psikologi juga ada perbedaannya, di dalam psikologi gejala-gejala tersebut riil, sedangkan didalam sastra gejala-gejala tersebut bersifat imajinatif.
                        Psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sastra sebagai aktifitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan karsa dalam berkarya. Begitu pula pembaca, dalam menanggapi karya juga tidak lepas dari kejiwaan masing-masing. Bahkan sebagaimana sosiologi refleksi, psikologi sastrapun mengenal karya sastra sebagai pantulan kejiwaan. Pengarang akan menangkap gejala jiwa kemudian diolah ke dalam teks dan dilengkapi dengan kejiwaannya. Proyeksi pengalaman sendiri imajiner ke dalam teks sastra (Endraswara, 2003:96).
                        Hubungan antara psikologi dengan sastra adalah bahwa disuatu pihak karya sastra dianggap sebagai hasil aktivitas dan ekspresip manusia. Di pihak lain, psikologi sendiri dapat membantu pengarang dalam mengentalkan kepekaan dan member kesempatan untuk menjajaki pola-pola yang belum pernah terjamah sebelumnya. Hasil yang bisa diperoleh adalah kebenaran yang mempunyai nilai-nilai arstitik yang dapat menambah koherensi dan kompleksitas karya sastra tersebut (Wellek dan Waren, 1995:108).
                        Hubungan tidak langsung yang fungsional antara psikologi dan sastra karena manusia dan kebudayaan menjadi sumber dan struktur yang membangun solidaritas antara psikologi dan sastra.
            5. Teori Konflik Batin
Konflik adalah percekcokan, perselisihan atau pertentangan. Dalam sastra diartikan bahwa konflik merupakan ketegangan atau pertentangan didalam cerita rekaan atau drama yakni pertentangan antara dua kekuatan, pertentangan dalam diri satu tokoh, pertentangan antara dua tokoh, dan sebagainya (Alwi, dkk 2005:587).        
Pengertian konflik batin menurutnya “Alwi dkk (2005:207) adalah konflik yang disebabkan oleh adanya dua gagasan atau lebih, atau keinginan yang saling bertentangan untuk menguasi diri sehingga mempengaruhi tingkah laku.
Jenis konflik disebutkan Dirgagunarsa (dalam Sobur 2003: 292-293), bahwa konflik mempunyai beberapa bentuk, antara lain sebagai berikut.
a.       Konflik mendekat-mendekat (approach-approach conflik)
Konflik ini timbul jika suatu ketika terdapat dua motif yang kesemuanya positif (menyenangkan atau menguntungkan) sehingga muncul kebimbangan untuk memilih satu diantaranya.
b.      Konflik mendekat-menjauh (approach-avoidance conflik)
Konflik ini timbul jika dalam waktu sama timbul dua motif yang berlawanan menenai satu objek, motif yang satu positif (menyenangkan), yang lain negative (merugikan, tidak menyenangkan). Karena itu ada kebimbangan, apakah akan mendekati atau menjauhi objek itu.
c.       Konflik menjauh-menjauh (avoidance-avoidance conflik)          
Konflik ini terjadi apabila pada saat yang bersamaan, timbul dua motif yang negative, dan muncul kebimbangan karena menjahui motif yang satu berarti harus memnuhi motif yang lain juga negatif.
Pada umumnya konflik dapat dikenali karena beberapa cirri, menurut Dirgagunarsa (dalam Sobur, 2007:293) adalah sebagai berikut:
a.       Terjadi pada setiap orang dengan reaksi berbeda untuk rangsangan yang sama. Hal ini bergantung pada faktor-faktor yang sifatnya pribadi.
b.      Konflik terjadi bilamana motif-motif mempunyai nilai yang seimbang atau kira-kira sama sehingga menimbulkan kebimbangan dan ketegangan.
c.       Konflik dapat berlangsung dalam waktu yang singkat, mungkin beberapa detik, tetapi bisa juga berlansung lama, berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.   
Irwanto (1997:207) menyebutkan pengertian konflik adalah keadaan munculnya dua atau lebih kebutuhan pada saat yan bersamaan. 
H. Kerangka Pemikiran
Sebagai kerangka apa-apa saja yang akan dilakukan selama proses penelitian adalah:
1. Mencari novel yang diangaap cocok dan bagus untuk mengankat judul ini dan ditemukan novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul “Bumi Cintauntuk mencari konflik batin tinjauan psikologi sastra.
2. Membaca secara berulang sehingga memahami peran tokoh utama dan mengetahui berbagai konflik yang dialami yang pelaku utama. 
I. Rancangan atau Desain Penelitian
            Dalam penelitian ini memerlukan
  1. Alat dan bahan
Menggunakan novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul “Bumi Cinta”. Tahun 2010
  1. Prosedur pengambilan data
Prosedur pengambambilan data mengambil konflik batin yang ada pada novel tersebut dan mengetahui bagaimana nasib pemeran utama dalam mengatasi kebatinan-kebatinan yang ada.

  1. Cara pengolahan data atau analisis data
Setelah mengetahui akan data dan hasil konflik dari dalam novel, dikaitkan dengan tinjauan psikologi sastra.
J. Jenis dan Strategi Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif artinya data yang dianalisis dan hasil analisisnya berbentuk deskripsi fenomena, tidak berupa angka-angka atau koefisien tentang hubungan antar-variabel. Data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar bukan berupa angka. Tulisan hasil penelitian berupa kutipan-kutipan dari kumpulan data untuk ilustrasi dan menjadi materi laporan. (Amminudin, 1990:16).
K. Objek Penelitian
Dalam penelitian ini akan diungkapkan data-data yang berupa kata, frase, unkapan, dan kalimat yang ada dalam novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul “Bumi Cinta”. Permasalahan-permasalahannya dianalisis dengan menggunakan teori struktual, serta teori konflik batin. Hal-hal yang berkaitan dengan metode penelitian ini dipaparkan sebagai berikut. 
Objek Penelitian, adalah konflik batin tokoh utama dalam novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul “Bumi Cinta”. yang diterbitkan Autor Publising 2010.
L. Data dan Sumber Data
Data yang digunakan adalah novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul “Bumi Cinta”. yang diterbitkan Autor Publising 2010.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini, dikelompokkan menjadi dua, seperti berikut ini.
 1). Sumber data primer
                                                Sumber data primer yaitu sumber utama penelitian yang diproses langsung dari sumbernya tanpa lewat perantara (Siswantoro, 2005:54). Sumber data primer dari penelitian ini adalah novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul “Bumi Cinta”.
  2). Sumber data sekunder
                                                 Sumber data sekunder yaitu sumber data yang diperoleh secara tidak langsung atau lewat perantara tetapi masih berdasarkan pada kategori konsep (Siswantoro, 2005:54). Dalam penelitian ini sumber data sekundernya berupa data novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul “Bumi Cinta”. yang diambil dari internet.
M. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
Teknik penumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pustaka, simak, dan catat. Teknik pustaka adalah teknik yan menggunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data (Subroto, 1992:42). Teknik simak dan catat, yakni penelitian sebagai instrument kunci melakukan penyimakan secara cermat, terarah, dan teliti terhadap sumber data primer yaitu karya sastra berupa novel Bumi Cinta. Dalam rangka memperoleh data yang diinginkan, dan terhadap sumber data sekunder sasaranya novel Bumi Cinta. Hasil penyimakan terhadap sunber data primer dan sekunder tersebut kemudian ditampung dan dicatat untuk digunakan dalam penyusunan laporan penelitian sesuai dengan maksud dan tujuan yang ingin dicapai.
N. Teknik Validitas Data
  1. Keabsahan Internal (Internal validity)
Keabsahan internal merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh kesimpulan hasil penelitian menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Keabsahan ini dapat dicapai melalui proses analisis dan interpretasi yang tepat. Aktivitas dalam melakukan penelitian kualitatif akan selalu berubah dan tentunya akan mempengaruhi hasil dari penelitian tersebut. Walaupun telah dilakukan uji keabsahan internal, tetap ada kemungkinan munculnya kesimpulan lain yang berbeda.
  1. Keabsahan Eksternal (Eksternal validity)
Keabsahan ekternal mengacu pada seberapa jauh hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada kasus lain. Walaupun dalam penelitian kualitatif memeiliki sifat tidak ada kesimpulan yang pasti, penelitiaan kualitatif tetapi dapat dikatakan memiliki keabsahan ekternal terhadap kasus-kasus lain selama kasus tersebut memiliki konteks yang sama.
  1. Keajegan (Reabilitas)
Keajegan merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh penelitian berikutnya akan mencapai hasil yang sama apabila mengulang penelitian yang sama, sekali lagi.
            Dalam penelitian ini, keajegan mengacu pada kemungkinan peneliti selanjutnya memeperoleh hasil yang sama apabila penelitian dilakukan sekali lagi dengan subjek yang sama. Hal ini menujukan bahwa konsep keajegan penelitian kualitatif selain menekankan pada desain penelitian, juga pada cara pengumpulan data dan pengolahan data.
O. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini mengunakan metode pembacaan heuristik dana hermeneutik. Metode pembacaan heuristik merupakan cara kerja yang dilkakukan oleh pembaca dengan menginterprestasikan teks suara secara referensial lewat tanda-tanda linguistik. Pembacaan heuristik juga dapat dilakukan secara struktual (Pradopo dalam Sangidu, 2004:19). Kerja heuristik menghasilkan pemahaman makna secara harfiah, makna tersurat, actual meaning (Nuriyantoro, 2007:33).
Langkah berikutnya metode hermeneutik. Palmer (2003:14-16) menyebutkan bahwa akar kata hermeneutic berasal dari istilah Yunani dari kata kerja hermeneuein yang berarti “menafsirkan” dan kata hermeneia, ”interpretasi”. Interpretasi dapat mengacu kepada tiga persoalan berbeda : pengucapan lisan, penjelasan yang masuk akal, dan transliterasi dari bahasa lain. Sastra merepresentasikan sesuatu yang harus “dipahami”. Tugas interpretasi harus membuat sesuatu yang jelas, dekat, dan dapat dipahami.
Definisi diatas sama dengan apa yang diungkapkan oleh Teeuw (1984:123), yaitu bahwa hermeneutika adalah ilmu atau keahlian meninterprestasi karya sastra dan ungkapan bahasa dalam arti yang lebih luas maksudnya. Hubungan antara heuristik dengan hermeneutik dapat dilihat dari dan dipandan sebagai hubungan yang bersifat gradasi sebab kegiatan pembacaan atau kerja hermeneutik haruslah didahului oleh pembacaan heuristik. Kerja hermeneutic yang oleh Riffaterre disebut juga sebagai pembacaan retroaktif. Memerlukan pembacaan berkali-kali dan kritis (Nurgiyantoro, 2007:33)
Tahap pertama analisis data penelitian ini adalah pembacaan heuristik yaitu penulis meninterprestasikan teks novel Bumi Cinta. Melalui tanda-tanda lingusitik dan menemukan arti secara linguistik. Caranya yaitu membaca dengan cermat dan teliti tiap kata, kalimat, ataupun paragraf dalam novel. Hal ini digunakan untuk menemukan struktur yan terdapat dalam novel guna anlisis struktual. Selain itu juga digunakan untuk menemukan konflik batin yang dialami oleh si Pria sebagai tokoh utama. Tahap kedua penulis melakukan pembacaan hermeneutik yakni dengan menafsirkan makna peristiwa atau kejadian-kejadian yan terdapat dalam teks novel.. hingga dapat menemukan konflik batin dalam cerita tersebut.    
 P. Prosedur Penelitian
Prosedur ini meliputi secara garis besar :
a.       Memilih masalah
b.      Studi pendahuluan
c.       Penulisan makalah
d.      Hipotesis
e.       Memilih pendekatan
f.       Menentukan sumber data dan instrument

 DAFTRA PUSTAKA
Aminuddin. 1990. Sekitar Masalah Sastra. Malang: Yayasan Asah Asih Asuh.
Astuti, Ari. 2005. Skripsi : Perilaku Abnormal Dalam Novel Pintu Terlarang Karya Sekar Ayu Asmara : pendekatan psikologi sastra. UNS.
Endraswarsa, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Gerungan, W. 1996. Psikologi Sastra. Bandung: Erasco.
Nurgiyanto, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi, Cetakan keenam. Yogjakarta: Gajah Mada University Press.
Nugraheni, Astini. 2006. Skripsinya Konflik Batin Tokoh Zaza Dalam Novel Azela Jingga Karya Nanin Pranoto: Tinjauan Psikologi Sastra. UMS.
Ratna, Nyoman Khuta. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Puspitasari, Lucky. 2007. Skripsi yang berjudul Perilaku Seksual Dalam Novel Larung Karya Ayu Utami: Analisis Psikologi Sastra.
Sangidu. 2009. Penelitian Sastra, Pendekatan, Teori, Metode, Teknik, dan Kiat. Yogjakarta: Gajah Mada Universty Press.
Shirazi, Habiburrahma El. Novel Bumi Cinta. Semarang : Author Publising.
Widiyanto, Wahyu. 2003. Skripsinya Analisis Struktur dan Sosiologi Sastra Novel Pol Karya Putu Wijaya. 
Yuanti, Nawang. 2007. Skripsinya Tingkah Laku Abnormal Tokoh Santo Dalam Novelet Tulalit Karya Putu Wijaya: Tinjauan Psikologi Sastra.


 Oktavian Aditya Nugraha, S.Pd.,M.Pd.
(Senin, 18 November 2013)

Senin, 11 November 2013

hujan dikala malam

rintikan air terdengar merdu bagai lanunan lagu
indahnya malam tergantikan suara merdu
bulan dan bintang malu menampakan diri
awan gelap terasa asyik diatas sana

malam mengundang sejuta pesona
hujan mendera dikala malam
butiran air jatuh pertanda
percikan demi percikan menjadi lanunan lagu

lagu rindu
lagu sendu
terhempas suasana malam ini
hujan dikala malam

tatapan sang elang memandang keangkasa
raut merona membahana memangsa lawan
pertanda malam ini membawa sejuta rasa
masih dalam benak hati untuk berkata ?

hujan,,,, 
hujan,,,,
hujan dikala malam bagiku
bagai alunan lagu